Catatan MaHe

Turning Point.

Hey Bloggie, apa kabar?

Kerjaan udah hampir selesai dan cafe masih sepi pengunjung, jadi… Gue curi2 kesempatan untuk sedikit curhat dan cerita tentang beberapa hal.

Many thing happened to me in past few weeks bloggie. And it has opened my eyes about many things. Friendship, friends, money, betrayal, hardwork, devotion, kasih sayang, dan profesionalisme.

Untuk bertahan hidup di Jakarta, gue sekarang untuk sementara kerja di sebuah Cafe yang cozy, named Bookshelf Indonesia. Gue incharge sebagai pastry staff, tugasnya dalah baking and making all the things related to the foods yang dijual di sini such as Choco puff, cheese puff, apple pie, almond turnover and others.

Lumayan lah, dapet makan siang sama makan malem… Jadi gue nggak perlu minta makan sama mbok Yah.
Oh, Mbok Yah. She is a very kind hearted lady. Dia baekkk banget.. Dan baek nya tuh bukan di awal2 gue tinggal di kostan as the other land lady used to be ya. Mereka kan biasanya manis di awal karena mereka pengen dapet subletter kan.. Nah dia nggak. Gue udah dari awal bilang sama sekali nggak punya uang, dan butuh banget tempat tinggal, gue cuma bisa bayar sekian persen uang sewa, dan sisanya nyusul tiga minggu lagi. Dengan sangat baik dia mempersilahkan gue untuk tinggal. Dan bahkan makan pun, gue dipersilahkan untuk makan sekenyang perut gue bisa nampung makanan, dan bayarnya cuman goceng, itu pun bayarnya boleh kapan2. God… Masih ada di Jakarta orang sebaik mereka ya. Gue amazed. Dan yang paling menyentuh hati banget adalah, cara mbok Yah manggil  gue. “Ya, nak?” “Ya, Sayang?” Dan kata panggil lainnya yang pake bahasa Jawa tapi terdengar sangat tulus dan penuh kasih sayang murni. Usianya 66 Tahun, dan jalannya udah sedikit bungkuk, tapi masih gesit dan bisa naik turun tangga. She is such an amazing women indeed.

Dan, untuk pelajaran mengenai true friendship, ternyata ada beberapa hal yang bisa menyadarkan bahwa orang yang sudah kita anggap teman baik, belum tentu menganggap diri kita sebaliknya bila berkaitan dengan uang. Ada beberapa teman yang gue sms/mintai bantuan untuk meminjam sejumlah uang untuk keperluan cek up Nyokap dan juga biaya tambahan kuliah adek gue,dan sama sekali nggak ngebales sms atau juga ngasih respon lanjutan. They just ended the comunication right away. That’s quite breaking my heart, to know that someone yang aku anggap sebagai peduli terhadap gue, sebagai teman baik, ternyata tidak begitu memperdulikan. Dan yang lebih menyakitkan adalah, my mother’s life ternyata tidak sebegitu berharganya di mata dia. Well, life’s a bitch indeed. But I wont change my self in to a worst form than now I am already have been. Gue akan berubah, tentunya ke arah yang lebih baik. Gue nggak akan melawan api dengan api, dan menjadi seorang haters karena dunia memperlakukan gue dengan ketidak adilan. Karena gue percaya inilah yang harus gue hadapi untuk menemukan hakikat hidup yang sejati.
Terimakasih udah diperlihatkan sebuah kenyataan, yang meskipun pahit tapi sangat berguna buat gue untuk mengetahui arti hidup yang sesungguhnya.

And Mom, lil sis, please hold on for another moment… I hope it will not too long.. I’m working on it, for us. For our happiness. Whatever is that would be, but i will keep it up for you.

Gramedia rejected my novel. Long story short, editornya sentimen oleh satu hal yang bahkan dia sendiri nggak ngerti duduk permasalahannya. Dan rencana gue untuk nerbitin novel dan ngejual sendiri mengalami sedikit penundaan. Gue sekarang harus bertahan dan ngumpulin uang dulu untuk hal yang lebih penting. Gue ngikutin aja ke mana arah hidup gue mengalir, dan kalau ada celah untuk menuju laut yang lebih pendek, gue akan belok dan mengikuti arus baru itu. keep moving, keep writing.