Catatan MaHe

It’s called: LIFE.

Many plans i had arranged. But not all of those things has came into a realization.

Apa kabar Bloggie? I know i abandoned you for a bit while, tapi bukan bermaksud melupakan sih. Life has it special way to make me rethinking all over again when i’m about to start recording my life journey. Intinya, gue selalu aja mentok karena males, ada kerjaan or anything elses.

Nah,
Di bulan Maret kemarin gue sempet berencana untuk hengkang dari Mertilang dan pindah ke kontrakan. Tapi ternyata rencana itu berubah total.
Gue masih di Mertilang, sampai detik ini. Agak membingungkan juga mungkin… Tapi ternyata memang ini yang seharusnya terjadi. Jadi kemaren pas dipikir-pikir lagi, akhirnya gue memutuskan untuk tinggal di Tasik dulu untuk sementara waktu, sambil gue nyelesain novel gue. Pertama, karena gue harus ngurus (nggak ngurus juga sih, cuman berusaha untuk menyelesaikan permasalahan) adek gue. Dan kedua adalah, setidaknya di rumah sendiri gue bisa lebih tenang nulis, dan nggak bakal kerepotan nyari makan.
Jadi gue tinggal di Tasik selama hampir dua bulanan. Dan setelah novel selesai, akhirnya gue balik lagi ke jakarta. Dan ternyata setelah di Mertilang, gue diajak ngobrol sama papi mengenai kerjaan. Papi berusaha untuk menggali apa sebenernya yang terjadi dalam diri gue, dan juga nyari tau kenapa gue bisa sampe hilang kepercayaan dan kemampuan dalam nulis di sinetron. Akhirnya setelah ngobrol panjang lebar, gue sampai pada sebuah kesadaran baru tentang arti dari loyalitas. Bukan gue selama ini nggak loyal, bukan sama sekali! Tapi karena faktor internal ditambah lagi external-lah yang bikin gue angot-angotan di sinetron. Dan setelah novel selesai, gue ngerasa udah nggak ada lagi beban pikiran, untuk sementara waktu. Dan ketika gue ngobrol sama Papi, gue seperti ditampar kenyataan bahwa, betapa papi care banget sama kita. Dia bener-bener mikirin apa yang harus dia lakukan untuk membuat kita bisa menjadi lebih baik. Namun yang lebih membuat gue terenyuh adalah keadaan papi di sinem@rt yang mulai berada di titik rawan. I mean, banyak banget orang yang mempersulit posisinya. Papi bilang, we succsess together, and fall dow together. Disini akhirnya gue sadar, papi membutuhkan orang-orang yang bisa dia jadikan bukan hanya sebagai co-writer, tapi juga sahabat, teman dan seseorang yang bisa dia percayai. Akhirnya kata-kata papi itulah yang bikin gue merasa, ternyata gue memang tidak seharusnya membiarkan papi berada dalam kesulitan dan kehilangan orang-orang yang dia percayain. Then finally i decided to keep walking beside him. I really respecting him. He is the one of persons that who always have some faith on me. Then i will decided to not to take it for granted. There are something more valuable lies behind our professional relationship.
Gue pun pada akhirnya sampai pada sebuah pemahaman hidup yang lebih baru dan lebih berarti. Gue nggak bisa menjabarkannya dalam kata-kata, namun setiap kali gue meresapinya, hati gue merasa hangat. Seperti gue pulang ke rumah…
Maybe someday i will starting my own life with my own foot. But later. Right now papi still needs me to help him working on some projects.