Catatan MaHe

The Art of Demanding Perfection

Yesterday i was all soury. Frowny. Full of dissapointment. Karena semua hal yang diharapkan kurang sempurna seperti yang seharusnya. Hari ini final persiapan pembukaan cabang baru di Syahdan. Seharusnya buka hari ini (Rabu 13-11-13), tapi karena eksekusi yang jatuhnya nggak sempurna, pembukaan pun dilakukan besok.

Ini dia yang jadi permasalahannya:

1. Kaca etalase yang salah ukuran. Jadinya panjang kaca nggak sepanjang meja.
2. Font yang salah PLUS ukuran kaca yang salah menyebabkan pemasangan stiker tulisan tidak menyenangkan dan agak mencong-mencong.
3. (warna merah kuning) kanopi yang tiba-tiba aja ada unsur warna kuningnya.
4. (yang ada motor) Warna cat untuk bagian depan yang terlalu terlalu tua dan kekuningan.
5. (saya duduk di tangga) nggak ada masalah sih, hanya mau show off sepatu kesayangan  aja 😀

Kesel. Gemes. Pengen marah-marah. Kemarin Senin sempet ngedatangin tukang kanopi dan protes kenapa ujung rumbainya dijahit warna kuning, karena sama sekali nggak sesuai dengan konsep Ngehe. Buat saya itu salah banget dan minta tukang kanopi untuk ganti warnanya. Dan akhirnya si tukang kanopi sanggup ganti warna pake cat. Janji datang hari selasa. Nah, itu dia. Hari selasa pun belum dikerjakan dan masih kuning. Maka dari itu kemarin semuanya seperti memuncak. Stress sampai memasuki sore. Saya sempat kesel sama a cecep karena mesen ukuran kaca salah. Kesel sama tukang kanopi. Kesel sama engkoh Gaya Baru toko bangunan yang ngasih cat salah. Kesel sama Babeh yang nggak nge-lem lembaran alumunium lapisan meja jadinya jendul-jendul. Kesel sama Roby pemilik toko peralatan rumah tangga karena belanjaan beberapa minggu kebelakang ada barang yang nggak tercatat. Semakin saya merasa kesal, semakin semua kekurangan akhirnya muncul satu per satu dan membuat mood makin jelek dan merutuki semuanya.

memasuki sore saat lagi duduk meredam emosi sambil menstabilkan mood kembali, saya mengamati secara sesama cikal warung kedua saya yang baru 80 persen jadi, hingga tersedot nostalgia saat persiapan buka warung pertama di anggrek beberapa bulan yang lalu. I was so very nervous too, just like i had that time. Kekhawatiran akan sesuatu hal yang belum terjadi membuat saya berpikir terlalu keras dan berlebihan sehingga menimbulkan kecemasan dan implikasi mood yang sangat tidak penting dan hingga akhirnya terjadi turning point saat sebuah kesadaran menghantam kepala. 
Suddenly i realized that, I was too focus terhadap semua kekurangan sehingga melupakan kelebihan-kelebihannya. Lalu saya mengitarkan padangan kesekelilingnya. Melihat laju pejalan kaki, kepadatan kendaraan dan betapa ramenya situasi di lokasi baru. Seharusnya saya fokus ke fakta yang menyenangkan ini saja dan mengabaikan kekurangan-kekurangan yang nggak begitu berarti tersebut. Damn. Saya jadi malu sendiri, disadarkan dari buaian power syndrome yang sempet bikin ego naik. Saya malu sekaligus bersyukur. I mean, baru segini aja udah demanding seperti pebisnis multi-billiuner. My attitude was wrong. I shouldnt have done such a bad expression ke si bapak kanopi. Nggak usah pake marah-marah juga karena si Bapak nggak paham sama konsep warung saya. He just doing his job. that was my fault eventually. Dan bersyukur karena kejadian turbulensi mood dan emosi kemarin memberikan persepsi dan pemahaman serta pemikiran baru dalam bagaimana menghadapi ketidak sempurnaan. Ternyata demanding perfection itu ada skala dan tempatnya juga. Ketika kenyataan tidak sesempurna yang kita harapkan, selama hal itu bukan major problem yang menyebabkan operasional dan jalannya bisnis terganggu, take it easy aja lah.
Focus on your strength instead of your weakness then all the flaws you have will be insignificant any more. 
And at the end of the night my head gets back clear dan sebelum pulang, me and my crews foto2 eksis :))